Friday, September 8, 2017

Pentingnya Sebuah Kepercayaan Untuk Kelangsungan Hidup

Cara Membangun Kepercayaan Terhadap Diri Sendiri Dan Orang Lain

https://edocationzone.blogspot.co.id/

Zona Tau | Kepercayaan (trust) berarti keyakinan terhadap integritas, kemampuan, atau karakter seseorang atau sesuatu. Kepercayaan, seperti dikemukakan oleh Jack Welch, sang legenda General Electric (GE), adalah sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Kepercayaan dapat membuat seseorang menjadi percaya diri, terbuka, jujur, bersedia mengambil risiko, dan merasa lebih nyaman dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kepercayaan juga dapat mengurangi resistensi terhadap perubahan, Sebaliknya, ketidakpercayaan (distrust) akan menyebabkan seseorang menjadi bersifat tertutup, tidak percaya diri, enggan mengambil risiko, dan tidak nyaman dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Akibat tidak adanya kepercayaan, produktivitas melemah, peluang-peluang pengembangan dan perbaikan terlewatkan, dan kinerja merosot.
Dalam sebuah organisasi, manfaat kepercayaan diantaranya adalah terciptanya iklim saling berbagi informasi dan kolaborasi. Ketika seorang karyawan yakin bahwa ide-ide dan informasi yang disampaikannya akan dihargai, inisiatif dan kreativitasnya akan tumbuh. Pemimpin yang mempercayai pengikutnya tidak akan segan-segan untuk mendelegasikan tugas-tugas dan wewenangnya kepada mereka. Demikian pula pengikut yang mempercayai pemimpinnya akan merasa lebih nyaman dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Di tengah-tengah perubahan dan ketidakpastian, kepercayaan menjadi landasan bagi kukuhnya kepemimpinan.
Pemimpin yang mampu membangun kepercayaan akan lebih mudah mengarahkan para pengikutnya tanpa resistensi yang berarti. Tingkat kepercayaan yang tinggi juga berkorelasi positif dengan keterlibatan pribadi, komitmen, dan keberhasilan dalam sebuah organisasi. Manfaat lain dari adanya rasa saling percaya adalah pertumbuhan organisasi yang lebih cepat; meningkatnya kepercayaan pelanggan dan masyarakat; berkembangnya iklim transparansi; mendorong inovasi; terwujudnya keselarasan antara sistem dan struktur organisasi; mempertinggi loyalitas karyawan; eksekusi strategi yang lebih efektif; dan pemanfaatan seluruh sumber daya organisasi dengan lebih efektif dan efisien. Jadi jelaslah bahwa kepercayaan adalah aset tidak berwujud (intangible asset) yang sangat berharga bagi organisasi.
Meski penting, namun nyatanya menumbuhkembangkan, mempertahankan, dan memulihkan kepercayaan jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang pertama-tama harus diingat adalah bahwa membangun kepercayaan dalam organisasi menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin. Menurut Serrat, pemimpin dapat hal ini dapat diwujudkan melalui visi, nilai-nilai, lingkungan kerja, pengelolaan sumber daya manusia (SDM), dan kompensasi.
Bila ingin membangun kepercayaan, organisasi harus memiliki visi yang jelas serta menekankan pentingnya kontribusi karyawan dalam mencapainya. Berkaitan dengan nilai-nilai, kepercayaan hanya akan tumbuh jika pemimpin konsisten mengikuti dan mendukung nilai-nilai organisasi. Ia harus menjadi teladan bagi seluruh karyawan. Lingkungan kerja berkontribusi signifikan bagi terbentuknya persepsi karyawan terhadap pimpinan dan juga persepsi tentang sejauh mana kepedulian organisasi terhadap karyawan. Lingkungan kerja yang tidak nyaman sudah tentu menimbulkan ketidakpercayaan.
Keputusan untuk merekrut, memberhentikan, menilai, mempromosikan, dan memindahkan karyawan adalah keputusan sulit yang harus dibuat oleh pemimpin organisasi. Jika organisasi ingin membangun kepercayaan, keputusan-keputusan tersebut harus didasarkan pada kriteria-kriteria yang jelas dan objektif. Karyawan akan menilai apakah keputusan-keputusan tersebut mencerminkan kepedulian pimpinan organisasi kepada kinerja dan nilai-nilai organisasi. Agar dirasakan adil, sistem kompensasi yang dikembangkan organisasi harus konsisten dan jujur.
Di samping kelima hal yang dikemukakan oleh Sierrat di atas, bila ingin membangun kepercayaan, organisasi wajib menciptakan iklim komunikasi yang terbuka. Termasuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengungkapkan keprihatinan tatkala mereka merasa ada hal-hal yang keliru. Berkaitan dengan hal ini, organisasi dapat melakukan survei secara berkala guna mengetahui masukan dan tanggapan karyawan seputar pengelolaan perusahaan. Jangan pula lupakan etika dan tanggung jawab sosial guna menunjukkan kepedulian kepada para pemangku kepentingan organisasi, termasuk karyawan.
Keamanan pekerjaan (job security) juga tak kalah penting. Pemberhentian (layoffs) berpotensi menggerus kepercayaan. Hal ini bukan berarti organisasi harus menawarkan keamanan kerja tanpa batas sehingga karyawan tidak lagi peduli pada kinerja mereka. Namun bila diberikan secara proporsional, keamanan kerja dapat membangkitkan kepercayaan terhadap organisasi dan pemimpinnya. Kepribadian para pimpinan juga memainkan peran penting dalam menumbuhkembangkan kepercayaan dalam organisasi. Agar dipercaya, seorang pemimpin organisasi tentu mutlak harus memiliki integritas dan kejujuran. Mereka harus benar-benar peduli pada etika dan moral, memiliki pendirian yang teguh, selalu berusaha menepati janji, dan berkomitmen penuh bagi kemajuan organisasi dan kesejahteraan anggotanya. Ingatlah orang akan lebih peduli pada apa yang dikerjakan ketimbang apa yang dikatakan. Actions speak louder than words.
Namun integritas saja tentu tidak cukup. Pemimpin harus memiliki bakat, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan gaya yang sesuai. Dengan kata lain, pemimpin harus benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Berikutnya adalah kesediaan memikul tanggung jawab sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam organisasi. Pemimpin macam ini tidak akan mudah mencari kambing hitam bila ada hal-hal yang tidak beres. Mereka lebih memfokuskan diri kepada apa yang salah, bukan siapa yang salah.
Kepedulian (caring) berkorelasi positif dengan kepercayaan. Pemimpin harus bisa menjadi sandaran bagi para pengikutnya tatkala mereka merasa lelah, cemas, frustrasi, dan kehilangan motivasi. Menghadapi kondisi pengikut yang demikian, dibutuhkan pemimpin yang mampu berperan sebagai motivator yang mampu membangkitkan kembali semangat para pengikut. Pemimpin secacam ini akan mampu membangun kedekatan emosional dengan para pengikutnya. Demikian pula sebaliknya.Penciptaan organisasi pembelajaran juga dapat membantu membangun kepercayaan. Organisasi pembelajaran dicirikan diantaranya oleh ditoleransinya kesalahan dalam batas-batas tertentu. Pemimpin dalam organisasi semacan ini juga tidak segan-segan mengakui kekeliruannya. Hal ini pada gilirannya mendorong karyawan untuk lebih berani mengambil risiko yang terkalkulasi. Cara-cara baru untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif dan efisien pun dapat ditemukan.

Sumber: The Jakarta Consulting Grup

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.